Gowes Indramayu Bandung dan Sebaliknya

Pengalaman gowes sendirian dari Kecamatan Gantar Indramayu sampai Kec. Nagreg Kab. Bandung sungguh membawa perasaan istilah lainnya BaPer hehe. Kenapa baper coba? Begini ceritanya ya tahan napas dulu Sobat hhe.
Istirahat di gubuk tak berpenghuni

Selama perjalanan tersebut, admin mengalami pasang surut antara putus asa dan semangat, pokoknya berjarak tipis antara semangat dan putus asa. Belum sampai setengah perjalanan mimin sudah diberi tanjakan-tanjakan di daerah Paseh Sumedang. 

Selain tanjakan-tanjakan juga jalan tersebut berkelok-kelok, tepatnya dari kecamatan Nyalindung yang tepat dekat dengan Mesjid Besar Nyalindung, dari situ mulai start tanjakan. Mimin gak kuat nanjak, mimin tuntun sepeda saja dari bawah sampai ke atas, sesekali di naiki bila ada jalan sedikit agak menanjak dan selebihnya dituntun hmmm.

Mimin mengalami putus asa di sini. Mimin mendekat ke Pom bensin yang di sampingnya ada toko. Mimin beli snack dan air minum untuk mengisi perut kosong dan rasa haus. Mimin liat jalan berikutnya menanjak daripada putus asa lebih baik melipir ke toko tersebut dulu. Btw itu sebelum tanjakan Paseh kalau tidak salah.

Tanjakan berikutnya yang terberat kedua setelah tanjakan Paseh yaitu Cadas Pangeran, jalan yang di sampingnya jurang-jurang dan juga berkelok-kelok. Mimin mulai tuntun lagi sepeda dari awal jalan sampai ujung tanjakan Pangeran. Rasanya bagai mana?  Nikmati saja yang penting tidak kemalaman, cuma kalau dipikir-pikir jalan di depan pun masih belum betakhir tanjakan-tanjakan yang sudah siap menyapa mimin huhu.
Welcome Cadas Pangeran

Tanjakan berikutnya tanjakan di jalan Simpang Parakan muncang. Mimin kecapekan saat nanjak di awal, eh waktu mimin menengok ke sebelah kanan ada penjual Bakso plus mie ayam. Sambil menuntun sepeda mimin melipir ke kanan mendekati penjual tersebut. Mimin pesan mie ayam dan air jeruk hangat.
Mie ayam dan air jeruk

Selesai istirahat mimin siap gowes lagi eh ternyata waktu mimin jalan menanjak, mimin memaksakan tanjakan tersebut dengan menggowes akibatnya perut ngilu seperti keram begitu. Juga saat kaki mengayuh dan tidak kuat tanjakan, kaki mimin saat mendaratkan ke aspal sedikit keram. Waduh tidak jadi gowes lah kalau keram begini. Mimin tuntun saja sepeda sambil meringis sakit pada badan. Mimin tuntun sepeda sampai selesai rasa sakit di perut dan menggowes kembali saat ada jalan yang datar.

Selesai melewati jalan alternatif Simpang-Paramun alias parakan muncang. Mimin melewati jalur utama Bandung ke arah Tasik atau Garut. Mimin mendapati tanjakan yang lumayan panjang walau tidak seekstrim tanjakan Paseh.

Mimin start gowes jam 06.30 dan tiba di kampung halaman jam 16.00 lumayan 9 jam setengah perjalanan plus istirahat-istirahat kecil dan menuntun sepeda hihi.

Sesampai di rumah mimin pun mikir dua kali besoknya pengen naik umum saja tapi sepedanya kasian ditinggal. Akhirnya setelah mikir-mikir perjalan balik kan pasti banyak turunan-turunan yang telah mimin lewati. Sebelumnya musuh mimin tuh tanjakan-tanjakan dan bila sebaliknya jadi sahabat mimin nih tanjakan-tanjakan kemarin itu alias jadi turunan-turunan. Oke pokoknya mimin harus tidur dini dulu buat persiapan besok gowes lagi. Pantang hukumnya naik kendaraan dengan meninggalkan sepeda di rumah haha.

Alhamdulillah perjalanan balik banyak turunan-turunan sampai-sampai menyalip angkot yang sedang berhenti, iya angkot yang sedang menurunkan penumpang hhe. Jalur cadas pangeran yang berkelok kelok saya lewati dengan kecepatan 40km/jam lalu jalur Paseh mimin lewati dan juga berkelok-kelok dengan kecepatan yang sama, cuma banyak pengereman di area tersebut karena di depan banyak truk yang melaju pelan di turunan.

Sampai di Cijelag, mimin mampir di indo tuk beli minuman dan tidak lupa  ke toilet tuk menguras perut biar kosong. Perjalanan Cijelag Bantarhuni ini mimin merasakan kebosanan tinggi, jalan jalan yang didominasi hutan jati dan udara panas serta jalannya datar kadang sedikit agak nanjak dan sedikit agak turunan membuat mimin sangat bete, apalagi disalip motor-motor yang melaju kencang dan mobil-mobil yang melaju dengan membunyikan klakson membuat saya nambah bete hmmm tetapi! Lebih mending deh dari pada waktu perjalanan ke Bandungnya hhe.
Minum saat suhu panas dan lelah terasa nikmat dan segarrr

Mimin start dari rumah jam 08.00 dan tiba jam 16.00 juga lebih banyak istirahat pokonya hehe. Jadi mimin menghabiskan perjalanan selama 8 jam. Mimin banyak istirahat karena mimin yakin nanti bila sampai sudah aman dari balik kemalaman. 
Foto dulu di tengah hutan jati yang puanas sangat

Perjalanan yang paling enak ya dari Bandung ke arah Cirebon dari pada sebaliknya. Lain kali bila gowes lebih baik naik umum dulu saat ke Bandungnya dan baliknya gowes deh 😬

Demikian ceritanya sobat-sobat dan kurang lebihnya mohon maaf ya sobat-sobat. Salam Gowess wess. 

(16-17/09/2017)

Membeli Tas Air Consina Yang Elegan

Mencari-cari tas hydropack yang bisa untuk gowes atau bersepeda. Saya tidak tertarik merek-merek keluaran luar negeri, pastinya merek tersebut harganya pasti menguras kantong dalam-dalam. Selain buat bersepeda mimin pun ingin tas tersebut bisa buat hiking so ketemulah dengan produk buatan kang Dyson hydropack yang diperuntukkan untuk pelari gunung nama tas air itu bernama Mountain runners.
Tas Hydropack Mountain Runners
. Horeee...

Mimin beli di toko online juga harga bandrolnya, 600ribu rupiah, lumayan harganya melebihi tas keril yang saya punya hehe. Di toko online ada diskon 10% dan sedang promo gratis ongkir,  lumayan kan mimin bisa beli sekitar lima ratusan #rezeki anak soleh.

Tas ini sudah termasuk water bladder dari merek consina juga, bladder ini bila beli dari toko sekitar 175ribu. Karena sudah termasuk water bladder alias included jadi mimin tidak usah beli lagi bladder. Horee

Walaupun harganya tidak murah tapi sepadan deh kualitasnya dengan merek luar negeri #menurut saya hhe. Bobotnya yang 0,7 kg lumayan kokoh saat dipakai. Sudah tidak sabar ingin saya pakai hmm.

Ouh iya, waterbladder yang satu ini saya baru tahu, biasanya bladder itu ada lubang penutup bulat, untuk isi air tinggal putar tutupnya tetapi bladder ini berbeda, saya pertama coba kesulitan, setelah lihat youtube akhirnya mimin bisa #prokk prokk. Caranya hanya tinggal di geser ke samping saja. Saya dapatkan tutorialnya dari youtube dengan merek Jerman. Waterbladdernya emang mirip sih, yang penting sudah tahu cara buka dan tutupnya hha.

Berikut penampakan dari Consina Mountain Runners yang saya coba pakai santai.

Terlihat dari depan
Terlihat dari belakang
Terlihat dari samping
Harga Mountain Runners
Included bladder Consina IDR 175rb

Membeli Tas Daypack Consina Namib

Selamat datang bulan September! Ahlan wa sahlan! Welcome September rain! Lho kok September rain hmmm.
Tampak depan

Kompartemen kedua
Kompartemen utama (kantung laptop 14")
Tampak dari belakang
Raincover

Postingan bulan september ini saya hendak posting tas sehari-hari dari Consina. Tas lama mimin yang lama sudah rusak akibat ketoledoran sendiri. Tali hipbelt atau tali di pinggang hancur saat mengendarai motor saat ke tampomas, gara-gara tas tersebut saya taruh di bawah bagian depan jok tanpa melipatkan tali-tali yang panjang yang terurai melambai-lambai ke bawah, sampai-sampai masuk ke rantai motor. Opss curhat segala hhe.

Mimin beli di toko online seharga 265 nett. Susah ditawar karena udah nett waduh, tapi untung toko onlinenya sedang promo 20% jadi ongkir tertutup alias gratis ongkir. Bila sobat ingin beli yang baru maka harganya hanya tiga ratusan plus lima ribu rupiah.

Ok lanjut ke topik saja ya. Tas baru saya walau belinya bekas di toko online hhe. Saya perkenalkan namanya si Namib dari produk lokal asal Bekasi. Saya ingin membahas kelebihan-kelebihan dan kekurangannya menurut mimin saja. So, bila ada yang menambahkan silahkan yo. 
Tampak saat dipakai
Tampak saat dipakai 
Tampak samping

Kelebihan:
- ada ruang untuk laptop ukuran 14" inch. Untuk yang di bawah 14 inch pastinya muat-muat saja
- tas daypack saja, jadi tidak ada tali-tali yang berseliweran seperti tas keril. Cocok untuk sekolah dan kerja.
- Sudah termasuk Raincover. (karena beli bekas raincover mimin ada sobeknya sedikit bekas pendahulu hiks)
- Kompartemen ada empat bagian. Kantung utama dengan jumlah restleting dua. Kantung kedua ada  dua restleting. Kantong ketiga sepasang dengan jimlah masing-masing satu restleting. Kemudian Saku kanan kiri berbahan karet melar elastis.
- saat pemakaian terasa enak dan bagian atas tas ini tidak kembung dan bagian atas tidak melebihi bagian bawah. Pola tas biasanya dari bawah ke atas mengerucut ya.

Kekurangan:

- Tas Namib di dalamnya terdapat kantong untung laptop 14", kantong tersebut terlihat kurang kokoh.
- Tidak memiliki kantong jaring yang memiliki restleting. Sangat disayangkan tidak ada kantong tersebut yang berfungsi untuk menaruh flasdisk atau kartu identitas, itu yang selalu saya gunakan dengan kantung jaring tersebut pada tas consina tagolu
- wadah/kantung lainnya tidak terlihat kantung untuk smartphone kalau untuk ballpoint sih ada. Dan tidak ada wadah dalam yang memakai restleting.
- tempelan merek produk hanya sablonan saja bukan bordir seperti pada tas pendahulu (tagolu) tapi sepertinya kuat tidak mudah mengelupas.
- Raincover bahannya kurang kokoh juga, cat pada RC mengelupas. (makanya beli baru!  Hehe)
- tidak ada gantungan untuk peluit dan tidak ada lubang H20. ( kalo ini mah asli buat kerja dan sekolah atuh, klo pengen ada ya beli yang daypack bisa untuk hiking seperti tagol*, dan daypack extraterrestria* 30l

Ok demikian repiu dari mimin ya. Bila ada yang lupa nanti mimin tambahkan. See ya!


Pengalaman Beli Sepeda Merek Giant di Bandung

Hallo sobat, saat ini mimin sedang ngidam main sepeda-sepedaan. Mimin tanya sana-sini tentang sepeda merek Giant. Saya tanya saja teman saya yang sudah membeli sepeda tersebut di Bandung. Kami memilih sepeda merek Giant, karena kualitas sepeda merek asal Taiwan ini sudah teruji handal dan ringan pula serta sudah terkenal di seluruh dunia. 
Giant Talon 27,5" 3 (2014)
Angan-angan saya saat itu, saya berharap mendapatkan sepeda Giant termurah karena melihat dari kantong sendiri yang tidak banyak-banyak amat. Sayangnya, saya termasuk pembeli terakhir dari teman-teman saya yang duluan membeli sepeda Giant termurah di Bandung 😱.

Sepeda termurah dari 4 juta sampai 8 juta yaitu Giant Revel, Rincon, ATX dan Talon. Revel di kisaran 4 jutaan, Rincon 5 jt, Atx 6 jt dan Talon 8 jutaan. Dari merek sepeda di atas yang termurah sudah habis terjual dan sisanya tinggal Talon harga 8 juta 😂. Harga sepeda di atas merupakan harga diskon dari toko yang kami hubungi, jadi bukan sebuah ukuran harga Giant yang sebenarnya ya sob.

Saya sebetulnya ingin membeli sepeda dengan budget 6 juta, secara di kantong tidak punya uang sampai 8 juta hhe. Karena sepeda 6 jt ke bawah telah habis maka saya menyerah saja dengan membeli Talon yang lebih mahal, tapi keuntungannya merek ini kan kualitasnya di atas teman-teman saya hehe. Lumayan ada gengsinya walau kantong kering 😬

Pertama, saya komunikasi dengan penjual sepeda di Bandung, orangnya lumayan ramah saat saya sms via wa dan pilihan terakhir yaitu sepeda Giant Talon 3 warna putih dengan diameter roda 27,5" dan gearnya 3/10 speed. Dan syukurnya kami mendapatkan diskon 25% dengan pembelian sepeda tersebut. Jadi saya merogoh kocek sebesar 8 juta kurang.  

Satu paket sepeda ini termasuk, lampu reflektor mata kucing/cat eye tapi tidak ada dudukannya, bel sepeda dan panduan buku Giant. Nah, ada gowesan bagian kanan ada aksesoris yang hilang sehingga terlihat dari samping kanan gowesannya bolong, nanti bila sempat saya cari sendiri aksesoris tersebut ke toko bila ada. 
Bagian pedal tidak dilengkapi aksesoris penutup lubang hmm

Pedal tidak sepaket dengan pembelian lho, jadi harus beli sendiri, tapi untungnya dengan negosiasi sedikit akhirnya dapat juga bonus pedal berwarna putih bening (pedal giant biasanya kan hitam), tidak apa-apalah yang penting pedalnya semoga kuat amin. Lalu dudukan lampu reflektornya tidak ada, jadi saya tidak berani berkendara sepeda di malam hari karena lampu reflektornya belum terpasang. 

Dengan harga 8 jutaan, Giant Talon, 3 27,5" keluaran tahun 2014 merupakan Talon terhandal dibanding Talon-Talon tahun lainnya #ahmasa.. (menurut saya biar senang sendiri hhe).

Sekarang mimin punya hobi baru, sehingga sekarang mimin perlu aksesoris penunjang hobi ini, biayanya luar biasa sob hehe. Sobat perlu helmet, dudukan botol air dan botolnya, tas sepeda dan water bladder, sarung tangan sepeda, buff, jersey sepeda, kacamata, dan aksesoris-aksesoris lainnya sob. Walau hobi ini mahal tetapi namanya hobi gimana gitu ya tetap hobi, kecuali bila sudah punya istri yang bisa menghentikan hobi tersebut, kecuali istrinya juga hobi gowes hmm. Pokoknya Mumpung belum ada yang melarang, maka puas-puasin saja ngegowesnya ya sob hhe

Oh iya sob, kalo nyari sepeda di Bandung banyak bangeud sob sampai pusing saya mau milih di mana itu sepeda, cuma kalo merek Giant hanya di toko-toko tertentu saja, bahkan ada yang menjual framenya saja selebihnya bisa ngerakit sendiri, tapi saya lebih suka membeli sepeda Giant yang fullbike yang kebih murah dari merakit sendiri.

Sepanjang jalan Ahmad Yani atau sekitar pasar kosambi Bandung banyak toko-toko sepeda mulai dari merek lokal sampai buatan taiwan dan Amerika. Saya sendiri membeli sepeda di atas menelusuri jalan Ahmad Yani dan akhirnya tiba di ujung Jalan tersebut dan menyeberang ke Jalan lengkong kecil, disini saya membeli sepeda giant dengan harga agak miring dari harga aslinya. Cuma sayang, sepeda yang dipesan tersebut limited alias terbatas bahkan sepeda Talon yang saya beli merupakan talon satu - satunya-tidak ada stok lagi, selebihnya harga di atas 10 juta ke atas yang ada di toko.

Jadi bila ingin beli sepeda merek yang saya beli dengan harga di atas harus kontak-kontakan dengan pemilik toko tersebut. Tapi jangan berharap banyak bila sudah dinyatakan habis oleh sang penjual sepeda tersebut. Tapi di toko lainnya di kosambi ada kok merek asal taiwan tersebut cuma harganya saja yang sedikit berbeda. Ini dialami oleh rekan saya yang sudah deal dengan DP cuma sayang Giant yang dia pesan sudah tidak ada, setelah di kontak cari alternatif lainnya ternyata ngambang entah kapan lagi ada. Teman saya akhirnya membeli sepeda di toko yang lainnya.

Demikian pengalaman dari admin semoga bermanfaat ya sob. Salam gowes!  Ssrrrrrrrr.......








Mengenal Plat Nomor Kendaraan di Indonesia

Nah, sobat-sobat! Admin mau berbagi ilmu, mengenal plat nopol kendaraan yang ada di Indonesia. Berikut plat dan wilayahnya, let's Rock! 

Jawa Barat dan Banten


A= Banten dan sekitarnya (Merak, Pandeglang dll)
B= Jakarta (Depok, Bekasi, Tangerang)
D= Bandung
E= Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan,  Sumber
F= Bogor, Sukabumi
T= Karawang, Cikampek
Z= Garut, Sumedang

Jawa Tengah dan DIY Jogjakarta

G= Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes
H= Semarang dan sekitarnya
K= Pati (Kudus, Jepara, Rembang)
R= Banyumas (Purwokerto dll)
AA= Kedu (Wonosobo, Dieng, dll)
AB= DIY Jogjakarta, Magelang
AD= Solo (Surakarta dan sekitarnya)

Jawa Timur dan Pulau Madura

L= Surabaya
M= P. Madura (Sumenep, Bangkalan dll)
N= Malang
P= Besuki (Probolinggo, Bondowoso, Situbondo dll)
S= Bojonegoro
W= Sidoarjo
AE= Madiun
AG= Kediri

Sumatera dan Bangka Belitung


BL= DI. Aceh
BK= Medan
BB= Sumatera Utara bag. Timur
BA= Sumatera Barat
BM= Riau
BH= Jambi
BD= Bengkulu
BG= Sumatera Selatan
BN= Bangka Belitung
BE= Lampung

Kalimantan



KB= Kalimantan Barat
KT= Kalimantan Timur
KU= Kalimantan Utara
KH= Kalimantan Tengah
DA= Kalimantan Selatan

Sulawesi & Nusa Tenggara



DB= Sulawesi Utara
DC=Sulawesi Barat
DD= Sulawesi Selatan
DN= Sulawesi Tengah
DM= Gorontalo
DT= Sulawesi Tenggara

Maluku dan Papua


DE= Maluku
DG= Maluku Utara
PA = Papua (Jayapura, Merauke)
PB= Papua Barat(Sorong dll)

Demikian info plat nomor kendaraan Indonesia semoga bermanfaat sob ×_×

Menikmati Alam Di Taman Buru Masigit Kareumbi

Kali ini saya menelusuri wisata alam yang ada di Cicalengka Kab. Bandung. Coba tebak kira-kira di mana ya? Yup benar, wisata alam yang terkenal yaitu curug Cinulang. Eit, saya skip saja curugnya ya, saya penasaran dengan jalan selanjutnya dari curug. Saat masuk menuju curug saya diberhentikan untuk membayar tiket curug sebesar 5ribu. Selesai pembayaran, saya tidak melanjutkan ke curug tapi saya lanjutkan perjalanan sampai jalan yang saya lalui mentok.
Rumah pohon, mantaph! 

Jalan aspalnya sudah habis toh. Waduh emang taman burunya di mana ya? Akhirnya saya masuk ke jalan yang berbatu hingga saat mengendarai motor harus hati-hati karena batu-batu di jalan membuat motor yang kami tunggangi bergoyang-goyang, saya jalan pelan agar nyaman dan menghindari kubangan air, sempet juga tergelincir di jalan yang basah tapi kedua kaki yang sigap menahan ke tanah jadi kami tidak tergelincir sampai jatuh. 

Tada, akhirnya setelah kira-kira ratusan meter jalanan batu telah terlewati. Kami sampai di Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Petugas parkir mempersilahkan untuk memarkir motor di dekat masjid kecil, untuk bayar parkirnya nanti setelah selesai atau hendak akan pulang dengan membayar 5ribu.

Saya bertanya kepada remaja di sana. Info yang kami dapat,  di sini ada penangkaran rusa, rumah pohon, bumi perkemahan dan ada jalan lurus ke depan konon katanya di sana ada tetua adat. Saya menuju arah kiri ingin melihat penagkaran rusa, saya melewati jembatan kayu campur besi dengan aliran sungai yang sangat jernih, tampak terlihat dasar air di sungai, rasanya ingin nyemplung ke air untuk berenang hhe. Melewati jembatan dan di balik pagar kawat yang saya lewati tak tampak rusa yang berkeliaran. Kami tidak ambil pusing, ada sebuah keluarga yang masuk ke penangkaran sedang memberi makan rusa, kami asal masuk saja dan berbaur dengan mereka sambil memberi makan rusa. Ternyata eh ternyata, kayaknya kami saja yang masuk kemarih, jangan-jangan ini tempat privasi mereka opsss, pokoknya setelah selesai foto kami langsung keluar pagar rumah tadi hehe. 
Rusanya cantik sambil megang hp pula hhe

Kami melanjutkan menuju rumah pohon, tempat ini juga disewakan untuk yang ingin berkemah kemari. Dari jalur awal menuju rumah pohon lumayan lebih jauh dibanding ke penagkaran, so saya hanya mengikuti arah menuju rumah pohon. Tada tiba di rumah pohon, jadi teringat seperti pemandangan di film-film holiwut yang mengisahkan masa-masa lalu. Rumah pohon di sini ada 5 rumah, so satu rumah bisa diisi sampai 6 orang, untuk harganya kata petugas parkir sekitar 600ribu permalam. Pokoknya bila berkemah di sini jangan takut kehabisan air, takut BAB dimana. Semua fasilitas sudah ada di sini, air mengalir jernih di samping rumah pohon dan ada kamar mandi di samping rumah pohon. 

Disini juga terdapat tugu perbatasan Bandung dengan Garut lho,  berarti saat di sini kita bisa berada di Garut juga bisa berada di wilayah Bandung. 

Sebelum pulang karena sudah hampir sore, saya bertanya-tanya dengan petugas parkir. TBMK ini saat ini tidak diperkenankan memburu karena di sini masih masa pemulihan hutan yang sebelumnya pernah berkubik-kubik kayu diambil oleh pihak yang entah dari mana asalnya. Lalu, di sini di kelola oleh organisasi pecinta alam bernama WANADRI berasal dari Bandung Kota, kantor pusatnya memang di Bandung lho,  jadi kadang para bule berkunjung kemari. Kok bisa bule berkunjung kemari padahal ini kan hutan jauh dari kota bandung? Mau tahu?? kan kantornya di Bandung jadi si bule kebanyakan kan nginap di Bandung tapi mereka diajak untuk menikmati alam yang ada di pinggiran Bandung ini, walaupun jaraknya lumayan jauh. 
Menyediakan penyewaan alat alat kemah

Di sini banyak muda mudi yang sedang bersama menikmati alam, keluarga yang menikmati pemandangan dan para pemburu foto yang mendominasi di sini termasuk saya juga hhe. Ada juga sebuah rumah privasi yang tampak terlihat dari luar terdapat mobil yang terparkir di halaman rumah, dan terdengar keluar suara musik yang lumayan terdengar keluar. 

Oh iya, orang-orang lokal dari daerah sekitar,  nama familiar curug cinulang dan kareumbi ini biasa disebut "KW" atau Kawasan wisata. Saat memasuki kawasan ini pertama yang kami temui adalah bukit dimana orang-orang nongkrong dengan pasangannya atau sahabatnya, lalu melewati rumah/saung Ki Enin-penginapan asri di sekitar sawah, selanjutnya curug Cinulang dan yang terakhir Taman Buru ini. 

Perjalanam dari Cicalengka ke tempat ini lumayan jauh sob, bila sobat hendak kemari bisa naik ojek bila sendiri ya, jika banyak orang bisa sewa angkot kemari. Peralatan kemah di sini juga tersedia kok untuk penyewaannya. Demikian info dari kami tentang Taman ini semoga sobat ngiler ingin kemarih ya hhe. Salam lestari! 

Menelusuri Jalur Alternatif Cijapati Bandung Garut

Jalur alternatif dari Bandung menuju Garut salah satunya yaitu via Cijapati terbentang dari Cicalengka, Bandung sampai Kadungora, Garut. Jalur ini akan ramai saat hari raya dan pergantian tahun baru demi menghindari kemacetan di jalan utama Nagreg menuju Garut atau ke Tasik.

Jalur via Cijapati Bandung-Garut

Jalanan beraspal mendominasi jalur alternatif ini. Ruas jalan yang cukup sempit dibanding jalur utama Nagreg membuat pemakai jalan khususnya mobil harus ada yang mengalah agak keluar dari jalan aspal. Jalanan yang bermaterial aspal sepanjang jalur ini cukup mulus, tidak saya dapati jalanan berlubang, yang saya dapati hanya tambalan-tambalan aspal saja selebihnya nyaman.

Saat melewati jalur ini yang harus diperhatikan adalah kondisi motor/mobil harus benar-benar baik karena jalur ini banyak tanjakan dan turunan yang curam serta berkelok-kelok. Saat siang hari jalan di sini cukup ramai saat itu di pinggir jalan banyak tersedia warung-warung warga dan para pemudik pun banyak yang beristirahat di warung warga, juga ada beberapa pengendara/pemudik yang berfoto-foto di pinggir jalan - pemandangan alam di sini cukup memanjakan mata dan udaranya pun sejuk. Tapi ingat harus hati-hati saat berkendara jangan terlena dengan pemandangannya ya ☺️

Saat perjalanan di jalur ini saya tidak mendapati lampu penerangan, jadi saat malam kemungkinan gelap gulita dan sepi di sini. Lebih baik jalan saat pagi siang atau sore hari dari pada malam hari. Saya mendapati beberapa bengkel yang berlokasi di dekat rumah-rumah warga saja, jangan sampai mogok dan jauh dari rumah warga ya hhe, lumayan jalanannya bisa tanjakan atau turunun menuju lokasi rumah warga.

Sesampai mendekati Kec. Kadungora. Kendaraan mobil mengantri bergiliran untuk menyebrang ke sebelah kanan menuju daerah Garut dan sekitarnya. Antrian sepanjang lebih dari 1km lho, untungnya saya membawa motor jadi bisa menyalip mobil yang antri. Saya tidak melanjutkan ke Garut tapi kembali ke jalur arah Bandung untuk menikmati foto-foto di lingkar Nagreg yang sudah menjadi langganan spot foto para pemudik hhe.

Antrian mobil saat masuk Kadungora, jalur Bandung-Garut

Semoga bermanfaat artikel dari saya. Selamat berpetualang sob...