Pengalaman Beli Sepeda Merek Giant di Bandung

Hallo sobat, saat ini mimin sedang ngidam main sepeda-sepedaan. Mimin tanya sana-sini tentang sepeda merek Giant. Saya tanya saja teman saya yang sudah membeli sepeda tersebut di Bandung. Kami memilih sepeda merek Giant, karena kualitas sepeda merek asal Taiwan ini sudah teruji handal dan ringan pula serta sudah terkenal di seluruh dunia. 
Giant Talon 27,5" 3 (2014)
Angan-angan saya saat itu, saya berharap mendapatkan sepeda Giant termurah karena melihat dari kantong sendiri yang tidak banyak-banyak amat. Sayangnya, saya termasuk pembeli terakhir dari teman-teman saya yang duluan membeli sepeda Giant termurah di Bandung 😱.

Sepeda termurah dari 4 juta sampai 8 juta yaitu Giant Revel, Rincon, ATX dan Talon. Revel di kisaran 4 jutaan, Rincon 5 jt, Atx 6 jt dan Talon 8 jutaan. Dari merek sepeda di atas yang termurah sudah habis terjual dan sisanya tinggal Talon harga 8 juta 😂. Harga sepeda di atas merupakan harga diskon dari toko yang kami hubungi, jadi bukan sebuah ukuran harga Giant yang sebenarnya ya sob.

Saya sebetulnya ingin membeli sepeda dengan budget 6 juta, secara di kantong tidak punya uang sampai 8 juta hhe. Karena sepeda 6 jt ke bawah telah habis maka saya menyerah saja dengan membeli Talon yang lebih mahal, tapi keuntungannya merek ini kan kualitasnya di atas teman-teman saya hehe. Lumayan ada gengsinya walau kantong kering 😬

Pertama, saya komunikasi dengan penjual sepeda di Bandung, orangnya lumayan ramah saat saya sms via wa dan pilihan terakhir yaitu sepeda Giant Talon 3 warna putih dengan diameter roda 27,5" dan gearnya 3/10 speed. Dan syukurnya kami mendapatkan diskon 25% dengan pembelian sepeda tersebut. Jadi saya merogoh kocek sebesar 8 juta kurang.  

Satu paket sepeda ini termasuk, lampu reflektor mata kucing/cat eye tapi tidak ada dudukannya, bel sepeda dan panduan buku Giant. Nah, ada gowesan bagian kanan ada aksesoris yang hilang sehingga terlihat dari samping kanan gowesannya bolong, nanti bila sempat saya cari sendiri aksesoris tersebut ke toko bila ada. 
Bagian pedal tidak dilengkapi aksesoris penutup lubang hmm

Pedal tidak sepaket dengan pembelian lho, jadi harus beli sendiri, tapi untungnya dengan negosiasi sedikit akhirnya dapat juga bonus pedal berwarna putih bening (pedal giant biasanya kan hitam), tidak apa-apalah yang penting pedalnya semoga kuat amin. Lalu dudukan lampu reflektornya tidak ada, jadi saya tidak berani berkendara sepeda di malam hari karena lampu reflektornya belum terpasang. 

Dengan harga 8 jutaan, Giant Talon, 3 27,5" keluaran tahun 2014 merupakan Talon terhandal dibanding Talon-Talon tahun lainnya #ahmasa.. (menurut saya biar senang sendiri hhe).

Sekarang mimin punya hobi baru, sehingga sekarang mimin perlu aksesoris penunjang hobi ini, biayanya luar biasa sob hehe. Sobat perlu helmet, dudukan botol air dan botolnya, tas sepeda dan water bladder, sarung tangan sepeda, buff, jersey sepeda, kacamata, dan aksesoris-aksesoris lainnya sob. Walau hobi ini mahal tetapi namanya hobi gimana gitu ya tetap hobi, kecuali bila sudah punya istri yang bisa menghentikan hobi tersebut, kecuali istrinya juga hobi gowes hmm. Pokoknya Mumpung belum ada yang melarang, maka puas-puasin saja ngegowesnya ya sob hhe

Oh iya sob, kalo nyari sepeda di Bandung banyak bangeud sob sampai pusing saya mau milih di mana itu sepeda, cuma kalo merek Giant hanya di toko-toko tertentu saja, bahkan ada yang menjual framenya saja selebihnya bisa ngerakit sendiri, tapi saya lebih suka membeli sepeda Giant yang fullbike yang kebih murah dari merakit sendiri.

Sepanjang jalan Ahmad Yani atau sekitar pasar kosambi Bandung banyak toko-toko sepeda mulai dari merek lokal sampai buatan taiwan dan Amerika. Saya sendiri membeli sepeda di atas menelusuri jalan Ahmad Yani dan akhirnya tiba di ujung Jalan tersebut dan menyeberang ke Jalan lengkong kecil, disini saya membeli sepeda giant dengan harga agak miring dari harga aslinya. Cuma sayang, sepeda yang dipesan tersebut limited alias terbatas bahkan sepeda Talon yang saya beli merupakan talon satu - satunya-tidak ada stok lagi, selebihnya harga di atas 10 juta ke atas yang ada di toko.

Jadi bila ingin beli sepeda merek yang saya beli dengan harga di atas harus kontak-kontakan dengan pemilik toko tersebut. Tapi jangan berharap banyak bila sudah dinyatakan habis oleh sang penjual sepeda tersebut. Tapi di toko lainnya di kosambi ada kok merek asal taiwan tersebut cuma harganya saja yang sedikit berbeda. Ini dialami oleh rekan saya yang sudah deal dengan DP cuma sayang Giant yang dia pesan sudah tidak ada, setelah di kontak cari alternatif lainnya ternyata ngambang entah kapan lagi ada. Teman saya akhirnya membeli sepeda di toko yang lainnya.

Demikian pengalaman dari admin semoga bermanfaat ya sob. Salam gowes!  Ssrrrrrrrr.......








Mengenal Plat Nomor Kendaraan di Indonesia

Nah, sobat-sobat! Admin mau berbagi ilmu, mengenal plat nopol kendaraan yang ada di Indonesia. Berikut plat dan wilayahnya, let's Rock! 

Jawa Barat dan Banten


A= Banten dan sekitarnya (Merak, Pandeglang dll)
B= Jakarta (Depok, Bekasi, Tangerang)
D= Bandung
E= Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan,  Sumber
F= Bogor, Sukabumi
T= Karawang, Cikampek
Z= Garut, Sumedang

Jawa Tengah dan DIY Jogjakarta

G= Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes
H= Semarang dan sekitarnya
K= Pati (Kudus, Jepara, Rembang)
R= Banyumas (Purwokerto dll)
AA= Kedu (Wonosobo, Dieng, dll)
AB= DIY Jogjakarta, Magelang
AD= Solo (Surakarta dan sekitarnya)

Jawa Timur dan Pulau Madura

L= Surabaya
M= P. Madura (Sumenep, Bangkalan dll)
N= Malang
P= Besuki (Probolinggo, Bondowoso, Situbondo dll)
S= Bojonegoro
W= Sidoarjo
AE= Madiun
AG= Kediri

Sumatera dan Bangka Belitung


BL= DI. Aceh
BK= Medan
BB= Sumatera Utara bag. Timur
BA= Sumatera Barat
BM= Riau
BH= Jambi
BD= Bengkulu
BG= Sumatera Selatan
BN= Bangka Belitung
BE= Lampung

Kalimantan



KB= Kalimantan Barat
KT= Kalimantan Timur
KU= Kalimantan Utara
KH= Kalimantan Tengah
DA= Kalimantan Selatan

Sulawesi & Nusa Tenggara



DB= Sulawesi Utara
DC=Sulawesi Barat
DD= Sulawesi Selatan
DN= Sulawesi Tengah
DM= Gorontalo
DT= Sulawesi Tenggara

Maluku dan Papua


DE= Maluku
DG= Maluku Utara
PA = Papua (Jayapura, Merauke)
PB= Papua Barat(Sorong dll)

Demikian info plat nomor kendaraan Indonesia semoga bermanfaat sob ×_×

Menikmati Alam Di Taman Buru Masigit Kareumbi

Kali ini saya menelusuri wisata alam yang ada di Cicalengka Kab. Bandung. Coba tebak kira-kira di mana ya? Yup benar, wisata alam yang terkenal yaitu curug Cinulang. Eit, saya skip saja curugnya ya, saya penasaran dengan jalan selanjutnya dari curug. Saat masuk menuju curug saya diberhentikan untuk membayar tiket curug sebesar 5ribu. Selesai pembayaran, saya tidak melanjutkan ke curug tapi saya lanjutkan perjalanan sampai jalan yang saya lalui mentok.
Rumah pohon, mantaph! 

Jalan aspalnya sudah habis toh. Waduh emang taman burunya di mana ya? Akhirnya saya masuk ke jalan yang berbatu hingga saat mengendarai motor harus hati-hati karena batu-batu di jalan membuat motor yang kami tunggangi bergoyang-goyang, saya jalan pelan agar nyaman dan menghindari kubangan air, sempet juga tergelincir di jalan yang basah tapi kedua kaki yang sigap menahan ke tanah jadi kami tidak tergelincir sampai jatuh. 

Tada, akhirnya setelah kira-kira ratusan meter jalanan batu telah terlewati. Kami sampai di Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Petugas parkir mempersilahkan untuk memarkir motor di dekat masjid kecil, untuk bayar parkirnya nanti setelah selesai atau hendak akan pulang dengan membayar 5ribu.

Saya bertanya kepada remaja di sana. Info yang kami dapat,  di sini ada penangkaran rusa, rumah pohon, bumi perkemahan dan ada jalan lurus ke depan konon katanya di sana ada tetua adat. Saya menuju arah kiri ingin melihat penagkaran rusa, saya melewati jembatan kayu campur besi dengan aliran sungai yang sangat jernih, tampak terlihat dasar air di sungai, rasanya ingin nyemplung ke air untuk berenang hhe. Melewati jembatan dan di balik pagar kawat yang saya lewati tak tampak rusa yang berkeliaran. Kami tidak ambil pusing, ada sebuah keluarga yang masuk ke penangkaran sedang memberi makan rusa, kami asal masuk saja dan berbaur dengan mereka sambil memberi makan rusa. Ternyata eh ternyata, kayaknya kami saja yang masuk kemarih, jangan-jangan ini tempat privasi mereka opsss, pokoknya setelah selesai foto kami langsung keluar pagar rumah tadi hehe. 
Rusanya cantik sambil megang hp pula hhe

Kami melanjutkan menuju rumah pohon, tempat ini juga disewakan untuk yang ingin berkemah kemari. Dari jalur awal menuju rumah pohon lumayan lebih jauh dibanding ke penagkaran, so saya hanya mengikuti arah menuju rumah pohon. Tada tiba di rumah pohon, jadi teringat seperti pemandangan di film-film holiwut yang mengisahkan masa-masa lalu. Rumah pohon di sini ada 5 rumah, so satu rumah bisa diisi sampai 6 orang, untuk harganya kata petugas parkir sekitar 600ribu permalam. Pokoknya bila berkemah di sini jangan takut kehabisan air, takut BAB dimana. Semua fasilitas sudah ada di sini, air mengalir jernih di samping rumah pohon dan ada kamar mandi di samping rumah pohon. 

Disini juga terdapat tugu perbatasan Bandung dengan Garut lho,  berarti saat di sini kita bisa berada di Garut juga bisa berada di wilayah Bandung. 

Sebelum pulang karena sudah hampir sore, saya bertanya-tanya dengan petugas parkir. TBMK ini saat ini tidak diperkenankan memburu karena di sini masih masa pemulihan hutan yang sebelumnya pernah berkubik-kubik kayu diambil oleh pihak yang entah dari mana asalnya. Lalu, di sini di kelola oleh organisasi pecinta alam bernama WANADRI berasal dari Bandung Kota, kantor pusatnya memang di Bandung lho,  jadi kadang para bule berkunjung kemari. Kok bisa bule berkunjung kemari padahal ini kan hutan jauh dari kota bandung? Mau tahu?? kan kantornya di Bandung jadi si bule kebanyakan kan nginap di Bandung tapi mereka diajak untuk menikmati alam yang ada di pinggiran Bandung ini, walaupun jaraknya lumayan jauh. 
Menyediakan penyewaan alat alat kemah

Di sini banyak muda mudi yang sedang bersama menikmati alam, keluarga yang menikmati pemandangan dan para pemburu foto yang mendominasi di sini termasuk saya juga hhe. Ada juga sebuah rumah privasi yang tampak terlihat dari luar terdapat mobil yang terparkir di halaman rumah, dan terdengar keluar suara musik yang lumayan terdengar keluar. 

Oh iya, orang-orang lokal dari daerah sekitar,  nama familiar curug cinulang dan kareumbi ini biasa disebut "KW" atau Kawasan wisata. Saat memasuki kawasan ini pertama yang kami temui adalah bukit dimana orang-orang nongkrong dengan pasangannya atau sahabatnya, lalu melewati rumah/saung Ki Enin-penginapan asri di sekitar sawah, selanjutnya curug Cinulang dan yang terakhir Taman Buru ini. 

Perjalanam dari Cicalengka ke tempat ini lumayan jauh sob, bila sobat hendak kemari bisa naik ojek bila sendiri ya, jika banyak orang bisa sewa angkot kemari. Peralatan kemah di sini juga tersedia kok untuk penyewaannya. Demikian info dari kami tentang Taman ini semoga sobat ngiler ingin kemarih ya hhe. Salam lestari! 

Menelusuri Jalur Alternatif Cijapati Bandung Garut

Jalur alternatif dari Bandung menuju Garut salah satunya yaitu via Cijapati terbentang dari Cicalengka, Bandung sampai Kadungora, Garut. Jalur ini akan ramai saat hari raya dan pergantian tahun baru demi menghindari kemacetan di jalan utama Nagreg menuju Garut atau ke Tasik.

Jalur via Cijapati Bandung-Garut

Jalanan beraspal mendominasi jalur alternatif ini. Ruas jalan yang cukup sempit dibanding jalur utama Nagreg membuat pemakai jalan khususnya mobil harus ada yang mengalah agak keluar dari jalan aspal. Jalanan yang bermaterial aspal sepanjang jalur ini cukup mulus, tidak saya dapati jalanan berlubang, yang saya dapati hanya tambalan-tambalan aspal saja selebihnya nyaman.

Saat melewati jalur ini yang harus diperhatikan adalah kondisi motor/mobil harus benar-benar baik karena jalur ini banyak tanjakan dan turunan yang curam serta berkelok-kelok. Saat siang hari jalan di sini cukup ramai saat itu di pinggir jalan banyak tersedia warung-warung warga dan para pemudik pun banyak yang beristirahat di warung warga, juga ada beberapa pengendara/pemudik yang berfoto-foto di pinggir jalan - pemandangan alam di sini cukup memanjakan mata dan udaranya pun sejuk. Tapi ingat harus hati-hati saat berkendara jangan terlena dengan pemandangannya ya ☺️

Saat perjalanan di jalur ini saya tidak mendapati lampu penerangan, jadi saat malam kemungkinan gelap gulita dan sepi di sini. Lebih baik jalan saat pagi siang atau sore hari dari pada malam hari. Saya mendapati beberapa bengkel yang berlokasi di dekat rumah-rumah warga saja, jangan sampai mogok dan jauh dari rumah warga ya hhe, lumayan jalanannya bisa tanjakan atau turunun menuju lokasi rumah warga.

Sesampai mendekati Kec. Kadungora. Kendaraan mobil mengantri bergiliran untuk menyebrang ke sebelah kanan menuju daerah Garut dan sekitarnya. Antrian sepanjang lebih dari 1km lho, untungnya saya membawa motor jadi bisa menyalip mobil yang antri. Saya tidak melanjutkan ke Garut tapi kembali ke jalur arah Bandung untuk menikmati foto-foto di lingkar Nagreg yang sudah menjadi langganan spot foto para pemudik hhe.

Antrian mobil saat masuk Kadungora, jalur Bandung-Garut

Semoga bermanfaat artikel dari saya. Selamat berpetualang sob...


Ngetrip ke Talaga Bodas Dan Situ Bageundit

Petualangan di hari libur pasca lebaran sungguh menguras tenaga, macet di mana-mana tapi tidak menjadi kendala admin tuk menjelajahi wisata alam yang ada di Garut Jawa Barat. Pagi hari admin mengajak my niece untuk pergi menjelajah ke wisata Garut dengan berkendara motor. Wisata yang menjadi incaran admin yaitu Situ Bageundit dan Kawah Talaga Bodas.

Kondisi jalanan yang padat dengan para pemudik, semua mobil mengantri giliran berjalan. Berbeda dengan motor,  saya pacu motor di bahu jalan yang terlihat lowong. Motor lebih bisa bergerak di banding mobil yang memiliki ukuran lebih besar dan memakan jalan.

Untuk menghindari kemacetan ke arah kota Garut. Saya ambil jalan ke kiri saat di Leles. Jalan tersebut adalah jalan alternatif ke Ciawi atau ke Cibatu, sudah ada plangnya kok tulisan tersebut, juga jalan tersebut jalan pintas menuju situ Bageundit dari arah Bandung atau Jakarta,  so tidak usah ke kota Garut dulu. Setelah masuk jalan tersebut dan beberapa kilometer berikutnya nanti kita menemukan plang lagi ke kiri ke Cibatu/Ciawi dan ke kanan ke Situ Bageundit. Saya ambil arah kanan pastinya, untuk menuju Situ tersebut hanya tinggal ikuti jalan lurus ke depan saja, soalnya situ berada dekat dengan pinggir jalan, saat melewati jalan di situ akan terlihat situ bageunditnya saat mengendarai motor dari jalan. 

Situ Bageundit
Suasana situ Bageundit

Saking ramenya saat liburan pasca lebaran, para juru parkir menyiasati parking area di halaman sekolah yang dekat dengan situ tersebut, hal tersebut dialami saya sendiri hehe. Saya di beri karcis parkir seharga 5ribu. Saat ke pintu masuk harga masuk 7500 tanpa karcis? Apa lupa tidak memberi karcis? Hmm ajalah. 

Saya ingin menaiki angsa gowes entah apa namanya yang bisa gowes di perahu angsa, saat menuju ke si mamangnya ternyata harus antri. Ternyata banyak peminatnya,  si mamang merekomendasikan naik rakit saja. Waduh mang kalo naik rakit mah nanti sepatu saya basah atuh. Memang si perahu angsa ini lebih banyak diminati dibanding si rakit. Saya tanya si mamang,  untuk naik si angsa-angsaan ini biayanya 20ribu/15 menit. Saya tidak ingin berlama-lama di situ karena ramai bukan main lho. Capcus ke keluar menuju parkiran. 

Talaga Bodas
My niece and me at Talaga Bodas

Perjalanan kembali di mulai. Melanjutkan kembali menuju talaga bodas yang terletak di Wanaraja Garut. Untuk menuju ke sana dari situ Bageundit lurus saja ikuti arah jalan tadi, lalu nanti di depan beberapa kilo meter lagi ada plang ke sebelah kanan ke WANARAJA dan ke sebelah kiri ke Kota. Sobat pilih saja ke kanan,  sudah jelas talaga bodas ada di wanaraja ya sob hhe. Tiba di ujung jalan Wanaraja kita belok ke kiri, letak jalan ke talaga bodas di dekat-dekat pasar Wanaraja. Saya menyebrang ke kanan untuk belok ke jalan Talaga Bodas. Dari sini jalanannya kecil dan jalanannya lurus terus dan menanjak,  lumayan kalo motor bebek sering ganti gear 1,2 dan 3 karena menanjak. FYI yang hendak kemari wajib terisi BBM yang cukup karena di atas sana sudah tidak ada jasa penjual BBM dan kendaraan harus prima, tidak dianjurkan kendaraan yang suka batuk ya hhe pasti ribet deh kalo mogok. 

Sepanjang jalan talaga bodas banyak anak remaja yang meminta-minta di jalan rusak, tapi waktu pulangnya sore sudah sedikit yang meminta-minta tersebut. Jalanan menuju talaga bodas di atas sudah mulai meliuk-liuk dan di kanan kiri jurang. Tenang jalanannya mulus kok saat di belokan-belokan jurangnya. Cuma bebera km menuju ke atas jalanan sudah mulai ada beberapa jalan yang sudah rusak. 

Tiba di pintu masuk Talaga Bodas, saya mengantri masuk. Saya berdua dan parkir motor total Rp. 26.500. Di sini saya parkirkan motor dan untuk ke atas bisa menyewa jasa ojek atau jalan kaki sepanjang 8,5 km. Banyak yang jalan kaki kok,  ada yang menawarkan ojek cuma 5000 rupiah ke atas, murah juga sih. Cuma saya ingin berolahraga dulu menikmati indahnya jalan di talaga bodas menuju kawah. Memang segar kok saat jalan-jalan, banyak muda mudi yang berjalan bersama-sama, jadi rindu masa lalu hmm.  

Sekitar 50 meter menuju ke kawah,  tampak kawah yang cantik terlihat sungguh luar biasa indah ciptaan-Nya. Di area talaga bodas ini terdapat tempat mandi air belerang dan curug, letaknya berjalan ke kanan dari arah menelusuri pinggiran kawah. Yang hendak menunaikan kewajiban ada Mushola kecil dan MCK di sekitar tempat pemandian. Menuju ke curug dari pemandian, curug saat ini sedang tidak banyak air, bila deras pasti indah sekali curug ini. 

Selesai menikmati indahnya talaga bodas. Saya pamit pulang dan semoga talaga bodas cepat berbenah setidaknya minimal seperti wisata kawah putih Bandung yang sudah bisa dikatakan bagus.

Cara menuju Talaga Bodas

Jakarta dan sekitarnya-Terminal Guntur=bis
Terminal Guntur-Wanaraja=angkot
Wanaraja-Kawah Talaga Bodas= Ojek/numpang mobil orang.

Rincian Biaya: per-orang
Tiket Talaga Bodas

Tiket Situ Bagendit :7500
Parkir Roda 2: 5000
Karcis Talaga Bodas : 7.500
Asuransi : 2000
Parkir :7.500

Dibuang sayang: 

Diambil dari jalan Talaga Bodas

Saat perjalanan menuju talaga bodas, Tuhan memberikan pemandangan yang indah. Terlihat gunung Sadahurip yang konon beberapa tahun ke belakang pernah diperbincangkan bahwa gunung tersebut diduga piramida yang terkubur. 

Accident:

Saya hampir membahayakan pengendara lain. Saat menuju pulang dari talaga, saya hampir bertabrakan dengan pengendara motor lain. Di turunan dengan belokan yang tajam. Saya melaju ke arah kanan jalan sedang di belakang ada motor melaju, ruang mereka untuk menyalip menjadi sempit jadi mereka hampir menabrak kami. Motor mereka motor trail yang tidak ada klakson jadi klaksonnya dengan teriakan kaget. Kami meminta maaf ke mereka walau muka mereka kaget campur marah sambil berlalu. Lain kali saat berkendara sobat harus konsentrasi walau di samping kanan kiri jalan pemandangan yang menggoda untuk dinikmati, hadeuh. 

Review Kompas Termometer dari Consina


Aksesoris kompas termometer

Kompas dari merek pohon pinus ini dibeli seharga Rp. 23.000. Di dalamnya terdapat thermometer dan kompas tentunya. Termometer di sini ada dua alat ukur yaitu celcius dan fahrenheit. Saya beli kompas ini karena ada alat ukur suhu Celsius,  Celsius alat ukur suhu yang umum di Indonesia, sedangkan Fahrenheit sepertinya asing di telinga saya. Selanjutnya, kalo kompas saya nomor duakan,  maaf ya belum difungsikan saat ini.

Untuk karabinernya sebatas fungsi sebagai gantungan saja jadi jangan berharap karabiner ini bisa untuk panjat tebing ya hhe. Karena berfungsi sebgai gantungan jadi kekokohan dan kekuatannya hampir sama dengan gantungan kunci pada umumnya.

Percobaan kompas ini saya lakukan di Dieng, Wonosobo Banjarnegara. Saat saya keluar penginapan saya pergi ke warung untuk makan sahur saat itu. Saya mengetes penjual nasi tersebut dengan pertanyaan berikut. "Bu,  Di sini dingin banget ya,  berapa sih suhu di sini?" tanyaku, "iya ini belum seberapa bahkan di juli agustus lebih dingin lagi,  sekarang suhunya sekitar 10° C" jawabnya. Saat saya melihat termometer karabiner saya menunjukkan temperatur 15°C, jawaban ibu benar kok cuma kurang 5°Celsius.

Kemudian saya coba kembali di puncak Sikunir, sang Golden sunrisenya Dieng Wonosobo. Saat itu memang dingin sekali saat waktu shubuh, walaupun sudah pakai jaket dobel lho. Saya lihat menunjukkan temperatur 15°C di alat tersebut. Bagai mana bila suhunya 0° C yang pasti di alami di Dieng ini entah waktunya kapan, pastinya menjadi pengalaman yang seru.

Percobaan berikutnya di Batu Pandang di siang hari. Suhu di sana sesuai alat ukur ini menunjukkan temperatur 19-21° Celsius tapi sengatan mataharinya itu lho panas banget sampai kulit saya memerah. Udara dingin di sini membuat kita biasa saja saat terkena sengatan matahari bahkan merasa hangat, padahal sengatan tersebut membuat merah kulit saya. Memungkinkan panas matahari di sini sangat menyengat,  so pakai topi dan baju yang bisa melindungi kulit ya sob.

Sekian dari admin hasil laporan dari percobaan di Dieng Jawa Tengah semoga bermanfaat buat sobat-sobat ya 😀

Baru Tahu Jalan Cibisoro Lebak Jero Seperti Apa

Admin selesai menyurvey jalan penghubung antara Cibisoro dan Lebak Jero Kab.  Bandung.  Kalo Cibisoro itu mungkin sobat baru denger ya tapi bila Lebak Jero setidaknya sobat sedikit tahu kan, di sana ada stasiun kecil Lebak Jero tempat perhentian satu-satunya kereta Cibatu jurusan Cibatu Purwakarta, kalo yang lain cuma numpang lewat saja. Tapi konon pemandangan di stasiun ini saat naik kereta itu sangat-sangat aduhai bagus lho.  Mimin pun saat ke sini melihat pemandangannya sungguh mantap deh walau pun pemandangannya gunung,  kebon-kebon, pokoknya suasana kampung banget, serasa mudik jadinya.
Pemandangan (Gn. Mandalawangi) saat menuju Lebak, jero

Mulai start dari jalan utama Bandung Garut, tepatnya di pangkalan ojeg depan pabrik elpiji kampung Margabakti, Nagreg Bandung. Itu tempat bermain mimin saat masih ingusan dengan teman-teman yang sekarang entah pada dimana. Lanjut ke Kp.  Binabakti, lalu lurus ke Ds.  Bojong.  Di Bojong ada 2 jalan,  saya ambil lurus saja ke arah Cibisoro,  sedangkan bila ke kanan ke Ds. Mekarwangi atau ke daerah warunglahang Kec. Cicalengka. Saya ambil lurus ke Cibisoro, jalanan mulus beraspal walau pun ruas jalan cukup kecil.

Saat menuju ujung jalan ini,  saya sudah melewati kebun-kebun dan pabrik kandang ayam. Nah,  jalanan mulai menanjak ke atas di sana banyak pabrik batu-bata kalo istilah sunda namanya Lio. Mimin mendapati masih ada yang bekerja di Lio saat sore hari. Dan petualangan pun dimulai! Jalanan aspal sudah habis karena termakan usia. Saya menapaki jalanan ini dengan berkendara motor. Suasanan sore yang sepi membuat mimin freak juga takut ban bocor atau mesin mati,  disini mau minta tolong ke siapa rumah-rumah panggung pun sudah jarang, tempat ini didominasi kebon-kebon warga di perbukitan.


Jalan menanjak, motor yang dikendarai mulai meraung dengan jalan yang dulunta beraspal dan sekarang menjadi tanah dan berkerikil juga berbatu-batu. Sudah melewati tanjakan lalu ruas jalan di depan tidak tampak. Jalanan yang dulu beraspal kini tinggal jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh motor para petani, mobil jangan harap bisa lewat sini. Jalanan sudah berumput liar dan sufah tinggi-tinggi. Saya pun berkendara motor kepayahan dan hampir-hampir jatuh karena keseimbangan di sini sangat sangat penting. Dan untuk motor pun sepertinya tidak layak! Mimin saat di sini keluar keringat karena tenaga terkuras demi memilih jalan yang bagus dari jalan berkerikil dan sebagian sudah ditumbuhi ilalang, oh iya jalan ini juga sepertinya jalan untuk air yang mengalir dari bukit ke lembah. Jalan di sini cocok untuk motor offroad itu pun sangat-sangat riskan karena berbatu besar bercampur kerikil yang membuat terasa licin pada ban yang dapat menjatuhkan motor bila keseimbangan terganggu.

Tiba di hutan dan kebon kebon,  untung saya mendapati seorang petani sedang memetik sesuatu diatas pohon. Saya akhirnya bertanya kepada sang petani dengan bahasa sunda saya sendiri,"Kang, kalo dari sini menuju Lebak Jero masih jauh gak,  kang?", "masih jauh tapi nanti di depan ada jalan beton kok" jawab sang petani,  dan saya pamit dan berterima kasih karena membantu mimin yang sedang kesulitan. Saya lanjutkan, jalanan sekarang turun bukit, astaga jalannya bikin saya pengen nangis, jalanan berkerikil dan menurun,  rem depan dan belakang saya gunakan sampai-sampai tangan saya kelelahan, jalanan di sini juga hanya jalan setapak yang dulunya jalan tersebut aspal yang bisa untuk kendaraan mobil roda 4.

Setelah berkendara berkilo-kilo meter saya menemukan jalan yang samping kanan kiri tidak ada ilalang sehingga pandangan ke samping kanan kiri bisa melihat pemandangan,  berbeda saat sebelumnya di samping kanan kiri hanya pemandangan ilalang tinggi yang berasa freaky.

Selanjutnya saya melihat dari jauh ada beton, yes akhirnya saya menemukan jalan beton dan jalanan di beton ini menurun full. Lanjut melewati jalur rel kereta dan stasiun Lebak Jero dan pemukiman warga yang sudah ramai di sore hari. Dan akhirnya keluar dari gang jalan keluar stasiun Lebak Jero.

*mohon maaf untuk foto tidak sempat saking konsentrasi saat mengendarai motor jadi tidak sempat foto demi keselamatan diri (lebay)